Menebus Rindu Bertumpuk Abad

————————————————————

Surat Pertama: Danuja, Siapa Kamu?

Entah apa ini yang saya seratkan…

Sepertinya saya tak perlu mengenalkan siapa saya lagi. Dyahmu di masa itu, kamu tahu.

Seharusnya saya juga tidak perlu menceritakan pertemuan awal kita di pertemuan awal yang kedua ini, tapi apa salahnya saya membisikkan sekali lagi. Saya takut kamu mulai tidak mempercayai hal yang memang seharusnya tidak dipercayai.

Hahaha.. Kamu masih saja lucu, terimakasih jika kamu masih berpikir saya masih serumit yang dulu. Saya rindu asumsimu. Saya rumit dan kamu berasumsi, tapi kita menjadikan kita dan semesta kita pada waktu itu hal yang terlampau sederhana. Kita sedang menertawakan semesta kita yang sekarang, bukan?

Hey, saya mulai berteriak kegirangan menceritakan ini, saya lupa akan janji saya untuk hanya berbisik.

Respati saat itu, hari kedua puluh dua sebelum bulan paling akhir. Saya, sore, dan hujan. Iya, Respati kali ini sepertinya sedikit tidak bisa diam, dia mengusikku untuk mengajari dia melafalkan satu nama berisi delapan kanji. Awalnya saya menolak. Hey, jangan munculkan asumsimu dulu, kamu tidak bisa menyalahkan saya, saya hanya berteman dengan kanopi kios kecil tempat saya berteduh. Tempatnya sempit, tidak mungkin saya bermain dengan Respati kecil dan delusi yang dia bawa. Tapi akhirnya saya menyerah, dia yang menang. Dia menyebutkan satu nama berkanji delapan, yang dulunya saya panggil Danuja.

Kamu Danuja, kamu sudah ingat, kan?

Saya dan kamu bersebelahan, hanya saja ada kaca dari balok es diantara kita. Melihatmu dengan samar,  mencoba mendekatkan badan hanya akan membuatku makin menggigil. saya mendengarkan suaramu yang menanyakan siapa saya. Siapa saya pada waktu itu. Kita saling lupa dan kita saling tahu. Saling tahu kita pernah dengan singkat saling memiliki di semesta pelukmu. Sepertinya begitu.

Hey, saya hampir lupa akan tujuan menyuratimu. Apa kabar, kamu? Siapa namamu sekarang?

————————————————————


Pagi yang basah dan beku, dan memori itu terpanggil kembali. Ah, kamu masih saja sama seperti dulu, Dyah. Berapa tahun kita tidak bertemu? Beberapa abad perpisahan tampaknya tidak cukup untuk merubah kita. Kamu tetap Dyah yang dulu yang kerap kali memberiku kejutan pada impuls-impuls otak ku.

Seperti pagi ini. Kamu kembali mengusik satu hal yang pada kehidupan ini, aku tak begitu mempercayainya, meskipun memori tentang kita di masa lampau begitu membekas seolah memaksaku untuk mempercayainya. Kamu selalu tau, aku tak suka mempercayai tanpa bukti. Namun kehadiranmu di kali kedua ini, semakin menguatkan bukti.

Ya. Kamu rumit. Terakhir kali kita bertemu, saat itu kamu menyembunyikan baju zirahku, sehingga aku berperang tanpanya. Sehingga hari itu, jasad lampau ku tak bisa kutempati lagi, dan aku harus menunggu jasad yang tepat untuk ku tempati. Sempat kesal dan terus menerus terpikir, “Apasih mau mu saat itu?” Itulah kenapa aku lebih memilih melupakan masa lalu ku. Dan tiba-tiba kamu muncul, hanya bermodal mengetikkan namaku di mesin pencarian internet, kamu masuk kembali kedalam hidupku. Dan seperti biasa. Kamu masih rumit, meski telah berganti tubuh, dan nama. Ya. Pada akhirnya kita menertawakan semesta kita saat ini.

Kamu selalu saja menahan…..aku menyebutnya ide, strategi, gagasan, dan… yah, semacam itu lah. Yang aku ungkapkan dari perenungan-perenungan ku saat malam. Dan karena hal itu aku selalu saja tidak tahan dan semakin ingin mengungkapkannya. Kamu selalu menganggapku Respati kecil. Aku benci itu. Namun, saat kau muncul di kali kedua ini, kamu membuatku, rindu. Dan aku benci untuk menuliskan kata itu kepadamu.

Dan aku benci saat tiba-tiba kamu menemukanku. Sempat ku marahi para malaikat yang dengan iseng nya membisikkan informasi tentang ku kepadamu. Namun buat apa lagi? Kita sudah sama-sama mengingat siapa kita….sebelumnya. Tak ada alasan lagi untuk membohongi memori yang pernah tercipta. Kamu, adalah bagian dari ku.

Aku tak tau siapa namamu sekarang, dan bagaimana rupamu. Seharusnya, kamu berhenti membuatku penasaran dengan kemisteriusanmu. Seharusnya kamu dulu yang memberitahukan jawaban pertanyaanku bulan kemarin. Siapa kamu?

Namun, baiklah kini. Aku tau kamu tak akan menyerah, dengan kerumitan mu. Namaku, mengambil julukanku terdahulu. Respati. Namun tanpa Batara. Dan, ya. Aku Danuja mu. Aku baik-baik saja sampai kamu dan setiap orang dari zaman itu muncul kembali, dengan bentuk dan nama yang berbeda. Meski senang rasanya bertemu dengan kalian. Menebus rindu bertumpuk abad.

Giliranku bertanya. Apa kamu datang kembali di masa ini, untuk mengambil kembali zirah dan pedang ku?

P.S.:
Dinding beku akan tetap aku bentang disekelilingku. Sampai aku merasa aman dari kalian yang datang dari masa lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s