Elemen ke-5 (aether)

Oke, gue sebenernya udah gatel banget pengen nuang pemikiran gue tentang hal ini di blog. Masih njelimet sih diotak. Karena ternyata, dari rumus sederhana Oom Einstein, gue bisa mengasumsikan banyak misteri alam semesta yang selama ini gak banyak juga orang mau repot-repot mikirin.

Gue udah menebak, pasti tulisan ini bakalan bersambung jadi beberapa judul kembangan. Artinya, bahasan ini akan meluas dengan sendirinya. Tapi yang mesti lo ingat, I am not a physicists. Gue cuma pemikir, dan pencari jawaban. Well, cukup introduksi nya, let me tell you what I think.

Udah dari sekitar dua tahun kebelakang gue mulai berpikir nggak normal tentang segala hal. Dan beberapa bulan kemarin (hampir setahun sih), gue mulai berpikir tentang creation of universe. Which is, selama ini kita cuma tau dari buku IPA anak SD, bahwa alam semesta itu terjadi karena adanya ledakan besar yang dinamakan BigBang. Dari proses tersebut, akhirnya terbentuklah galaksi-galaksi, bintang-bintang, planet-planet, sampai ke keragaman hayati baik hewan, tumbuhan, kemudian manusia.

Kebanyakan manusia hanya mengetahui bahwa segala sesuatu di alam semesta ini hanya terdiri dari 4 unsur dasar. Air, Api, Udara, dan Tanah. Kemudian gue menemukan, bahwa segala sesuatu nya tidak akan eksis jika tidak ada satu unsur pendukung yang dinamakan ruang. Ya. Segala sesuatu yang ada, butuh ruang, bukan? Berpikir lebih jauh lagi, ternyata bukan cuma ruang yang dibutuhkan sebagai syarat adanya materi. Materi akan “ada” jika ada ruang dan waktu. Bila waktu itu tidak ada, maka tidak akan ada ruang. Dan bila tidak ada ruang, waktu pun tidak ada.

Bingung? Oke, mari gue perjelas. Gue jabarkan pelan-pelan.

Ada pertanyaan sinting yang ganggu banget sekitar dua tahun lalu. Yaitu, waktu dan semesta, lebih dulu mana yang tercipta? Krik, krik, krik…. Gue bingung dong. Sampai akhirnya, gue mulai menemukan jawabannya dari Postulat Einstein E = mc2. Dimana, E=Energi, M=Massa Benda, dan C2 = Kecepatan cahaya dalam vakum yang dikuadratkan, yaitu kecepatan yang paling tinggi yang bisa dijangkau pemikiran manusia. Dalam persamaan E = mc2  menunjukkan semakin dekat benda pada kecepatan cahaya akan semakin besar massanya yang akan berakibat energi yang dibutuhkan untuk mengubah momentumnya juga harus ditambah.

Kok jadi bawa-bawa rumus Einstein? Gini…. Selama ini kan kebanyakan orang itu percaya, space itu adalah ruang kosong dan time itu adalah artifisial manusia. Bisa-bisaan nya manusia aja. Benarkah? Logika sederhananya, kamar lo bisa ada lemari dan perabotan itu karena ada ruang kosong, gitu? Terus ruang kosong itu kenapa bisa ada? Dan udah berapa lama ruang itu jadi ruang kosong. Jadi ternyata ruang kosong itu ada karena pergerakan partikel sehingga terjadilah space. Nah itulah yang dikenal para fisikawan sebagai aether. Atau dikenal secara umum sebagai dimensi. Yaitu elemen ke-lima. Penunjang eksistensi dari berbagai materi. Dan disepakati bahwa dimensi ini sendiri adalah bentuk energi.

Bila merujuk ke rumus tadi dan kemudian ditelaah, suatu materi untuk mencapai kecepatan cahaya dibutuhkan sejumlah Energi dan Massa yang cukup besar. Bila digambarkan akan menjadi c² = E/m. Yang berarti kecepatan cahaya berbanding terbalik dengan akar dari energi yang dibagi massa sebuah benda. Bila disederhanakan, ini menunjukkan, bahwa Time merupakan durasi tempuh dari suatu partikel atau materi yang mengalami momentum, dan merupakan Amplitudo (panjang gelombang) dari fase pergerakan partikel tersebut. Sementara jangkauan gerak suatu partikel tersebut merupakan Space.

Nah, that’s why dimensi atau aether atau space-time ini terbentuk sehingga segala sesuatu itu ada, karena telah mendapat “tempat” untuk eksis. Tapi, justru dari pemikiran gue tersebut, gue malah menemukan paradoks. Bahwa, tiada materi tanpa dimensi, dan tiada dimensi tanpa materi. Yap. Eksistensi suatu partikel butuh ruang dan waktu. Sementara ruang dan waktu (dimensi) butuh partikel. Ini (barusan gue googling) diagramnya.



Kalau dikaitkan dengan filsafat mistik islam pun dikatakan bahwa, “Sebelumnya tidak ada apa-apa selain Tuhan. Hanya kekosongan (suwung)“. Ini semakin menguatkan analogi gue bahwa Tuhan sebagai Sang Sumber lah yang menciptakan kelima unsur tersebut dan menjadikan sistem yang saling mengikat, agar terjadi creation.

Dalam Paganisme kuno pun, kelima unsur tersebut pun dijelaskan dalam simbol pentagram yang masing-masing sudut (mata bintang) nya mewakili satu elemen, sementara tengah nya “kosong”. Kosong merupakan lambang dari source of creation. Atau bisa jadi simbol ketuhanan itu sendiri. Entahlah. Dan ini semakin membawa gue ke pemikiran lain yang berdasar dari pemikiran ini. Next time akan gue tulis kembangan pemikiran gue tersebut.

Gue bukan orang pinter apalagi sok pinter. Buktinya, bego nya gue, ternyata hal ini telah menjadi perdebatan dikalangan fisikawan modern dari akhir abad 19 sampai abad 20 sekarang ini. Gue baru tau dari google bahwa ternyata bukan gue yang pertama kali mikir kayak gini. Bahahahahaha…

Lo juga bisa melihat tulisan +Yogi Natasukma yang dikemas dengan rada geblek tentang Dimensi di “Dimensi Ke10, Tuhan, mahkluk gaib dan lemper daging”. Oke, selamat kebingungan. Gue pun.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s