Belajar Membumi


Kamu lihat awan diatas sana? Indah bukan? Ya. Langit memang begitu indah dan menyimpan misteri yang kerap kali menyusup dalam imaji anak manusia. Bila malam tiba, langit semakin menggoda manusia dengan pesona nya yang ia tawarkan melalui bulan dan jutaan bintang.
Manusia kerap kali membayangkan seolah mereka dapat terbang menembus langit.

Menangkap awan, memetik bintang, membelai bulan. Manusia kerap kali membayangkan seolah langit dapat mereka jelajahi dan taklukkan. Ya. Terbang dan menaklukkan langit memang impian terbesar dan terpanjang dalam sejarah peradaban anak manusia. Kamu juga, bukan?

Langit dengan pesona tak terbatasnya memang begitu memikat dan menggoda imajinasi tiap manusia yang terbatas, untuk menjamahnya. Sehingga mereka lupa, bahwa pesona bumi yang merupakan tempat mereka menjejak, tak kalah hebatnya.

Lihatlah mereka. Mereka berusaha menumbuhkan sayap-sayap mereka, mengambilnya dari burung dan malaikat yang mereka taklukkan, untuk kemudian mereka pakai menaklukkan angkasa raya, nantinya.

Mereka mulai belajar mengembangkan sayapnya, mengepakkannya kencang-kencang, menghentakkan kaki, kemudian mencoba belajar terbang. Mereka mencoba meniadakan gravitasi. Melupakannya seolah tak pernah ada.

Mari kita amati saja. Tak perlu kau terpancing untuk melakukan hal yang sama, meski dirimu sangat tergoda. Biarkan saja mereka belajar terbang. Percayalah. Aku pernah seperti mereka. Meski kini aku lebih memilih berada dibawah.

Rasakan. Rasakanlah. Gravitasi yang memelukmu erat. Menjaga mu sehingga engkau tak melayang-layang bagai kapas. Lihat. Lihatlah mereka yang satu persatu mulai jatuh tak tentu arah, dipaksa kembali membumi, jatuh berdegum menumbuk tanah.

Bukan. Bukan karena cemburu gravitasi menariknya kembali. Gravitasi hanya menjaga agar kita tak lupa bumi. Rasakanlah dengan lembut pelukannya. Jangan menantang keperkasaannya.

Rasakan. Rasakanlah ia. Lalu rasakan tiap kakimu, bagaimana ia menjejak. Angkat perlahan, kemudian berjalanlah. Tetap perhatikan, bagaimana kakimu melangkah, menjelajah tiap jengkal tanah.

Bila lelah, maka saatnya kau belajar berlutut, kemudian merebah. Pasrah menyatu dengan bumi, melepaskan sedikit lelah, agar kelak kau dapat kembali berdiri dan menjejakkan kaki.
Bila puas kau menjelajah, jangan pernah sungkan dan ragu untuk bersujud, mencium bumi. Ciumlah dengan sepenuh hati dan ketulusan cinta yang kau miliki. Saat itu kau akan menemukan arti dari sejatinya diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s