Visit Candi Sukuh dan Ceto: Antara Cenayang, CTM, dan Peradaban Masa Silam.

Sebut saja namanya B. Mas-mas jawa sahabat saya yang kadang-kadang berubah jadi cenayang. Jangan bayangkan dia bertampang seram dan berbau menyan dengan kumis melintang menutupi separuh bibir. Jangan juga bayangkan dia ber-style Gipsy yang bajunya penuh dengan manik-manik nge-jreng bikin risih mata. Dia cupu banget. Lugu, dan bully-able.

Saat itu baru awal bulan Oktober 2012. Singkatnya, malam itu dia rupanya sedang kesurupan. Entah dari mana dia dapat ilham bahwa saya “disuruh” mengunjungi candi Sukuh dan candi Ceto. Saya sudah terbiasa mendengar racauannya yang memang terkadang terdengar cukup gila. Bahkan pada malam itu dia bertaruh bahwa saya pasti akan sampai di sana meski saya berusaha menolaknya. Iya-in aja lah. Daripada ribet. Mungkin dia sedang terlalu senang karena masih tanggal muda, lalu mencoba mengajak saya piknik bareng dengan caranya yang ajaib.

Sedari pertama saya mendengar berita itu, saya memang berniat untuk tidak pergi ke sana. Saya tipikal orang yang bila ada hal-hal yang tidak masuk logika, maka saya akan melakukan hal yang sebaliknya. Meskipun itu juga tanpa dasar logika juga. Jadi, berita tersebut saya anggap cuma guyonan saja. Sampai akhirnya saya mulai sedikit terganggu. Pertengahan bulan, B selalu menanyakan, kapan saya bisa berangkat ke Sukuh-Ceto. Tentu saja senjata andalan saya adalah jawaban, “Nanti ya, gue lagi banyak deadline project, nih.” Tapi jika ditanya hampir tiap beberapa hari sekali, kan kaya dikejar-kejar Ibu Kost yang galak-dan-hobi-main-mahjong-terus-kebetulan-lagi-kehabisan-uang-buat-taruhan-nanti-malam. Dan saya tetap makin menjadi kekeuh piteukeuh kusumadirdja, SH (sarjana hukum). Saya tetap berteguh hati untuk melakukan hal sebaliknya. Ngapain juga?

Tapi keanehan juga banyak terjadi. Ada saja teman yang notabene berasal dari circle pertemanan yang berbeda dan tentunya nggak saling kenal, mengajak saya wisata ke Sukuh. Menurut saya, ini aneh. Bagaimana bisa seperti ada perwakilan dari masing-masing circle yang berbeda mengajak wisata ke tempat yang sama. Saya tetap nolak, dong. Bukan karena bebal. Namun kali ini lebih ke takut. Alasan saya untuk menolak mereka bervariasi. Dimulai dari nggak punya uang, sedang deadline, ada janji nge-date sama entah siapa, dan macam-macam alasan lainnya. Dalam hati saya menyesali kenapa bisa kenal sama cenayang geblek bernama B.

Hingga akhirnya, pada sore menjelang malam jum’at, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2012, saya di ajak beberapa teman untuk jalan-jalan ke kawasan puncak, Bogor. Nggak pakai pikir dua kali, saya iyakan. Saya langsung packing dan mulai menuju rumah teman saya sebagai meeting point-nya. Kami berangkat habis maghrib, setelah sebelumnya mampir ke minimarket membeli camilan untuk di perjalanan. Total yang berangkat ada 4 orang. Laki-laki semua. Saat masuk tol, kondisinya macet total. Kendaraan hampir tidak bergerak. Karena haus, saya kemudian minum air mineral botolan yang diberikan salah satu teman saya. Tidak berapa lama, saya merasa ngantuk. Ngantuk sekali. Mungkin karena saya kelelahan setelah beberapa hari lembur menangani beberapa project di kantor. Saya pun kemudian tertidur.

***

Di satu gang yang gelap, saya kehilangan teman-teman saya. Saya pikir mereka sudah lebih dulu turun dari mobil. Saya berusaha keluar melihat dan mengenali tempat itu. Karena sangat asing, saya putuskan untuk mencari teman-teman saya. Sampai di persimpangan gang, saya mencoba belok ke kiri. Ternyata semakin gelap, dan sialnya, setelah ditelusuri, ternyata buntu. Saya putuskan untuk berbalik, namun tiba-tiba, entah dari mana datangnya, ada banci dengan dandanan tebal setebal brewoknya. Saya lemas seketika. Namun saya tau, saya harus berlari. Saya mencoba sekuat tenaga untuk berlari ke mobil. Syukurlah, teman-teman saya sudah ada di dalam mobil. Saya masuk mobil dan mengunci pintu. Lemas sekali rasanya. Jantung juga seolah ingin meledak. Teman-teman saya bertanya saya kenapa. Saya bilang ke mereka, saya dikejar banci. Mereka menertawai saya sambil menoleh ke saya dengan……………………….wajah yang penuh make-up tebal. CELAKA DUA BELAS. Kaki dan seluruh tubuh saya tidak bisa bergerak lagi. Kesemutan campur kram. Mereka mulai mendekat dan saya cuma bisa berteriak-teriak ketakutan sampai……………………….terbangun.

Ya. Terbangun kaget karena di hadapan saya ada banci yang sedang mengamen tepat di balik kaca mobil. Saya nggak tau lagi saya terbangun karena mimpi buruk, kram campur kesemutan sebadan-badan, cahaya matahari, atau banci yang mengamen di balim kaca jendela mobil. Untung saja lampu hijau segera menyala. Mobil kami melanjutkan perjalanan. Wait. Puncak? Berangkat sore dan sekarang sudah terang? Dan ada candi Prambanan di sisi kiri jalan? INI DI MANA SIH?

Teman-teman saya semakin tertawa geli melihat saya. Rupanya saya tertidur cukup lama setelah dicekoki air mineral yang sudah dicampur CTM (obat alergi). Saya langsung tau tujuan mereka mau ke mana. Karena sebelumnya mereka juga salah satu yang berusaha membujuk saya untuk ke Sukuh dan Ceto. Dengan alasan penelitian arkeologis. Ya. Saya memang sedang menaruh minat terhadap peradaban masa lalu dengan beberapa fakta bahwa peradaban masa lalu itu lebih tinggi daripada saat ini. Sial. Padahal mereka sama sekali tidak kenal B. Kok bisa-bisanya.

Kami bermalam di rumah salah satu pelaku penculikan tadi, tepat di pintu gerbang kawasan wisata Sukuh-Ceto, Karanganyar, Jawa Tengah. Daerah yang cukup dingin. Tepat berada di kaki gunung lawu. Tak banyak yang kami lakukan sesampainya di sana. Kami hanya beristirahat di sana sambil memulihkan tenaga untuk memulai ekspedisi kami esok harinya.

Candi Sukuh

Hawa yang sangat dingin untuk ukuran orang Jakarta seperti kami, membuat teman-teman saya malas untuk bangun. Kalau saya jangan tanya. Bahkan saya belum tidur semalaman. Entah karena kemarin sudah puas tidur gara-gara CTM jahanam, atau karena hawa dingin yang sangat menusuk, atau karena terlalu larut dalam pikiran dan kengerian sama ucapan B sang cenayang durjana. Sulit untuk membangunkan mereka. Akhirnya kami kesiangan berangkat menuju Sukuh dan Ceto. Rencananya kami berangkat pukul 7, kami baru berangkat pukul 9.

Mengikuti arahan dari keluarga teman saya, kami berangkat tidak menggunakan mobil pribadi. Mengingat jalan yang kecil, menanjak curam, dan tikungan tajam. Kami naik bis mikro jurusan Kemuning dengan hanya membayar Rp. 2500. Kami meminta kernet supaya diturunkan di titik terdekat dari candi Sukuh. Begitu turun, banyak tukang ojek mengerubungi kami menawarkan jasa ojek pulang pergi. Karena kami ingin irit, kami memilih untuk jalan kaki dari tempat kami diturunkan. Lumayan jauh juga. Sekitar 1,5 Km dari tempat kami turun sampai ke kawasan candi Sukuh, dengan jalan yang cukup terjal. Setelah sampai, kami membayar tiket retribusi sebesar Rp. 3000/orang. Sepi sekali hari itu. Entah kami datang terlalu pagi, atau karena tidak banyak peminat wisata sejarah. Namun kondisi ini sangat menguntungkan bagi kami. Selain kami bisa fokus “belajar”, aktifitas kami tentu akan sangat leluasa.

Candi_Sukuh_1

Bangunan Utama dari Komplek Candi Sukuh.

Candi Sukuh berada di ketinggian 1186 mdpl, berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar. Candi ini konon adalah candi terakhir peninggalan era Majapahit akhir. Para arkeolog menandainya dengan simbol raksasa memakan manusia yang jika diterjemahkan ke dalam candrasengkala akan ditemukan bahwa candi Sukuh dibangun pada tahun 1359 Saka, atau 1437 Masehi. Benarkah?

Hey! Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui dulu, bahwa saya bukan arkeolog. Cuma orang yang suka mendengar cerita, kemudian menemukan banyak kepingan puzzle yang sedikit demi sedikit menemukan benang merah di antara kepingan-kepingan puzzle tersebut. Jadi, baiknya jangan percaya pemikiran saya sepenuhnya. Saya menemukan banyak keanehan pada Candi Sukuh. Mulai dari bentuk, relief, bahkan beberapa cerita dari warga setempat dan beberapa kabar burung yang beredar yang kemudian saya kait-kaitkan dengan folklore tentang Candi Sukuh.

Saat pertama memasuki candi Sukuh, kita akan melihat gerbang masuk. Namun rupanya dikunci. Entah karena khawatir (di)rusak, atau karena kesakralannya. Jadi untuk memasuki candi Sukuh, kita harus melalui pagar yang disediakan oleh pengelola. Letaknya ada di sebelah barat daya. Pada gerbang masuk candi Sukuh, di sisi kiri kanannya kita dapat menjumpai relief Kala (raksasa) dan juga relief burung yang sedang mencengkram ular. Kepala burung menghadap ke arah barat. Kenapa harus barat, saya juga masih belum bisa memecahkan maknanya. Pada lantai gerbang masuk, terdapat relief Lingga-Yoni yang sedang menyatu (coitus). Entah menunjukkan candi ini digunakan untuk ritual tertentu, atau memang murni berkaitan dengan lambang penciptaan (Lingga = Langit, Yoni = Bumi).

Gerbang Candi Sukuh

Gerbang Candi Sukuh.

2012-10-27 09.30.29

Sisi kiri gerbang candi.

2012-10-27 09.32.37

Sisi kanan gerbang candi.

 

Sisi kanan dan kiri ada relief Kala

Sisi kanan dan kiri ada relief Kala.

2012-10-27 09.30.59

Relief kepala Kala pada atas candi.

 

2012-10-27 09.31.25

Relief Lingga-Yoni pada lantai gerbang candi.

 

Dari segi bentuk bangunan, candi Sukuh agak berbeda dengan bentuk candi-candi Hindu lainnya. Yaitu lebih menyerupai bentuk piramida Inca-Maya. Saya jadi berpikir, bila mengabaikan candrasengkala, mungkinkah candi ini benar-benar dibangun pada era terakhir Majapahit? Karena bentuknya sendiri lebih mirip punden berundak. Bangunan ciri khas pada era megalitikum. Bangunan ini, menurut folklore, adalah tempat Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) moksha. Tepatnya, di bagian atap candi. Memang, setelah saya mengecek ke atas, seperti ada altar yang digunakan untuk bersamadi. Sisa-sisa dupa dan sesaji yang masih baru, nampak ada di altar tersebut. Nampaknya candi ini masih sering digunakan untuk melakukan ritual-ritual khusus. Pada sekeliling bangunan, terdapat celah kecil yang sepertinya merupakan tempat jalan sesuatu yang cair. Entah itu minyak (sebagai sistem penerangan kompleks candi pada masanya), atau memang jalur pembuangan air.

Bila dikaitkan antara folklore dengan kabar burung masyarakat setempat, pada waktu-waktu tertentu, bangunan ini seringkali memancarkan sinar vertikal ke arah langit. Oleh karena itulah masyarakat percaya bahwa candi ini adalah tempat Sang Prabu moksha dan naik ke langit, menyatu dengan Sang Maha Pencipta. Namun, saya juga pernah mendengar kabar di internet, bahwa satelit NASA beberapa kali menangkap cahaya putih memancar dari bumi ke langit, yang konon setelah di-cek, ternyata berasal dari candi Sukuh. Saya kemudian menduga-duga, jangan-jangan candi ini adalah semacam portal menuju ke somewhere di langit sana. Ya meskipun saya masih belum menelusuri kebenaran berita tersebut karena minimnya sumber.

Namun, memang, momen yang paling saya nikmati ketika berada di puncak bangunan ini adalah saat saya bermeditasi. Rasanya tenang sekali bermeditasi sambil dibelai lembut udara sejuk dan angin, serta mendengarkan suara gesekan pohon dan suara burung. Tapi, momen tersebut juga jadi momen paling durjana ketika ada sesuatu yang datang menemui saya saat bermeditasi. Rupanya ini maksud si B menyuruh saya ke sini. Supaya saya bisa ditakut-takuti. Trolling ala cenayang. Mau kabur tapi nggak bisa. Nggak usah diceritakan di sini lah ya. Mari kita kembali membedah candi. Lebih seru diceritakan dan lebih waras untuk dipikirkan.

Undakan yang menyerupai bangunan utama, menuju ke arah bangunan utama.

Undakan yang menyerupai bangunan utama, menuju ke arah bangunan utama.

Bangunan utama

Bangunan utama.

Di sekeliling candi, terdapat relief-relief, patung-patung, dan sisa-sisa candi yang hancur. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika mengunjungi candi ini adalah, candi ini terlalu vulgar. Banyak sekali simbol-simbol seksual di sini. Kasarnya, candi ini untuk 17++ lah. Namun apabila mengikuti apa yang ditulis para ahli arkeolog, sangat masuk akal bila candi ini melambangkan penciptaan alam semesta. Mengingat banyaknya relief Lingga-Yoni, dan dewa-dewa Trimurthi. Beberapa simbol langit dan bumi juga banyak ditemukan di sini. Seperti beberapa patung kura-kura yang melambangkan bumi, juga garuda yang melambangkan langit. Namun pertanyaannya sama seperti pertama kali saya masuk. Kenapa harus barat? Candi ini seolah-olah ingin menyampaikan keberadaan sesuatu yang berada di arah barat. Saya juga sempat berpikir, candi ini lebih tua dari era Majapahit. Hanya saja mengalami perombakan dan kemudian dipergunakan ulang saat era akhir Majapahit. Ini bisa di lihat dari bentuk bangunan seperti yang saya singgung di atas. Beberapa relief juga terlihat mencurigakan. Banyak relief setengah manusia setengah binatang. Juga saya menemukan relief makhluk berkepala besar seperti Homer Simpson sedang menggotong monyet untuk di bawa ke benda terbang. NAH LHO!!! JANGAN-JANGAN INI BANGUNAN YANG BIKIN BUKAN ORANG PLANET BUMI.

Kura-kura yang menghadap ke barat

Kura-kura yang menghadap ke barat.

Manusia langit, manusia burung, atau makhluk Hybrid?

Manusia langit, manusia burung, atau makhluk Hybrid?

Manusia langit, manusia burung, atau makhluk Hybrid?

Manusia langit, manusia burung, atau makhluk Hybrid? Kepalanya juga menghadap ke barat.

Dua alien membawa monyet kepada orang yang berada di sesuatu yang terbang?

Dua alien membawa monyet kepada orang yang berada di sesuatu yang terbang?

Proses percampuran manusia dengan monyet yang tadi di bawa?

Proses percampuran manusia dengan monyet yang tadi di bawa?

Manusia gajah membuat senjata?

Manusia gajah membuat senjata?

Ikan atau ular, ayo tebak. :)))

Ikan atau ular, ayo tebak. :)))

Ya. Banyak sekali relief-relief yang mencurigakan yang membuat saya berpikir macam-macam. Banyak juga pertanyaan-pertanyaan yang kemudian timbul memenuhi kepala saya. Sementara teman-teman yang minta saya pandu, cuma garuk-garuk kepala melihat saya kebingungan dan menyimpulkan sesuatu.

 

Candi Cetho

Sepulangnya dari Sukuh, kami kembali ke tempat tadi kami turun dari bis mikro. Setelah berembuk dan voting, akhirnya kami memutuskan (kecuali saya sih) untuk meneruskan ke candi Cetho. Seriously, they seems like testing me. Akhirnya saya menyerah dan kembali diculik. Kami naik bis mikro lagi sampai ke terminal kemuning. Seperti tadi, saat kami turun, banyak tukang ojek mengerubungi kami menawarkan jasa antar ke candi Cetho. Awalnya kami menolak. Karena harga yang diberikan cukup mahal. Rp. 35.000/orang, PP. Karena hari sudah semakin sore dan langit semakin gelap, maka mau tidak mau kami naik ojek yang cukup mahal. Ternyata, jalur melewati kebun teh. Jalannya hancur, berkelok, dan curam. Dan nggak sampe-sampe. Jauh banget. Pantas saja mahal. Namun sepanjang perjalanan pemandangan keren jadi hadiah untuk siapapun yang melewatinya.

Dataran tinggi Kemuning. Jalur kebun teh menuju kompleks candi Cetho.

Dataran tinggi Kemuning. Jalur kebun teh menuju kompleks candi Cetho.

Candi Cetho ada di desa Cetho, kelurahan Gumeng, kecamatan Jenawi, Karanganmyar. Letaknya cukup aneh. Berada persis di ujung jalan dataran tinggi, menghadap langsung ke barat cakrawala luas. Terletak di lereng gunung Lawu dengan ketinggian 1496 mdpl. Untuk masuk ke sini, terlebih dahulu kita harus membayar retribusi sebesar Rp. 3000 (untuk turis lokal. Rp. 10.000 untuk turis interlokal). Candi ini konon juga didirikan di akhir era Majapahit, dengan candrasengkala 1373 Saka, atau 1451 Masehi.  Bentuk kompleksnya juga berundak. Ada lima teras di candi ini. Mirip dengan arsitektur situs megalitikum Gunung Padang.

Pada pintu masuk, terdapat satu arca, menghadap ke cakrawala dengan gaya berdo’a yang tidak lazim digunakan kepercayaan Hindu apalagi pada saat itu. Arca tersebut berdo’a dan seolah menatap langit. Saya sampai-sampai penasaran dan kemudian mencoba menirukan pose arca tersebut untuk mencari tau, apa yang mereka lihat. Memang, rumor yang beredar di masyarakat, sering terlihat benda terbang bercahaya di sekitar kompleks candi Cetho. Tapi entah benar entah cuma rumor. Gaya pahatannya juga aneh. Tidak seperti pahatan khas candi-candi Nusantara. Gaya pahatannya mengingatkan saya pada gaya pahatan Babilonia kuno. Di belakang arca tersebut ada dua arca lain dengan pose yang tidak kalah anehnya. Seperti sedang menjadi makmum dan berpasrah pada sesuatu.

2012-10-27 12.24.02

Arca berdo’a menghadap ke langit.

2012-10-27 12.24.13

Arca berdo’a menghadap ke langit.

 

 

Pemandangan yang saya lihat kalau saya jadi arca.

Pemandangan yang saya lihat kalau saya jadi arca.

Dua arca makmum.

Dua arca makmum.

Gaya pahatan yang bukan Nusantara banget.

Gaya pahatan yang bukan Nusantara banget.

Setelah memasuki gerbang komplek candi, ada teras pertama. Pada teras pertama, kita bisa menjumpai susunan batu yang menyerupai bentuk anak panah.  Saya melihatnya sepintas seperti bentuk pesawat jet. Di belakang susunan batu tersebut, juga terdapat patung kura-kura. Yang saya tidak habis pikir, semua arca menghadap ke barat. Kebetulan saat itu saya membawa kompas. Posisi candi dan arca, sama persis seperti Sukuh. Menghadap ke barat, lebih sepuluh derajat ke kanan kalau, tidak salah. I mean, how come? Kenapa orang dulu bisa membuat satu bangunan di tempat berbeda dengan arah yang benar-benar sama?

Pada sisi-sisi teras pertama, juga ada susunan batu dan relief (bekas bangunan?) yang menceritakan tentang epos Ramayana.

Susunan batu teras pertama dilihat dari teras ke dua.

Susunan batu teras pertama dilihat dari teras ke dua.

Patung kura-kura pada bagian belakang susunan batu.

Patung kura-kura pada bagian belakang susunan batu.

Ujung susunan batu dengan beberapa relief binatang dan relief Lingga (penis).

Ujung susunan batu dengan beberapa relief binatang dan relief Lingga (penis).

Tidak banyak yang saya dapati di candi Cetho. Teras ke dua sampai ke empat adalah altar-altar. Hanya sedikit ornamen di sana. Itupun hanya arca tokoh yang diyakini merupakan tokoh Semar (Sabdopalon), juga arca yang diyakini merepresentasikan arca Prabu Brawijaya V. Baru pada teras ke lima ada sebuah bangunan mirip pura yang sayangnya kami tidak bisa masuk ke sana karena dipagari.

Lingga.

Lingga.

Konon merupakan arca Prabu Brawijaya V.

Konon merupakan arca Prabu Brawijaya V.

Sabdopalon

Sabdopalon.

Prabu Brawijaya V

Prabu Brawijaya V.

Kami tidak berlama-lama di candi Cetho. Namun kami sempatkan untuk mampir ke situ yang baru dibuat masyarakat Hindu, yaitu patung Saraswati. Setelah itu, kami langsung turun untuk beristirahat sebentar, karena akan pulang ke Jakarta malamnya. Iya. Senin saya harus kerja. Lagipula saya sudah ingin buru-buru menyudahi penculikan ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s