Makhluk Artifisial

Paradigma bagi manusia seperti candu. Hampir setiap saat manusia sibuk berasumsi dan berparadigma. Menuntaskan rasa haus akan pertanyaan yang terlontar dari apa yang kita sebut akal pikiran. Seperti udara yang terus dihisap oleh paru-paru, manusia tak dapat lepas dari paradigmanya. Dan itulah takdir yang telah tertulis besar-besar dalam kertas besar bernama kehidupan.

Paradigma memang candu bagi manusia. Tanpanya mungkin kita tak dapat hidup. Karena paradigma telah menjadi sepenting udara. Dari sana terlahir ide-ide baru yang membuat manusia lain belajar, dan kemudian menyempurnakan kehidupan.

Namun entah dosa siapa. Saat ini paradigma seakan menjadi lebih dari sekedar candu. Mari kita lihat jauh kedalam. Seberapa sering kita terpengaruh dan bahkan bergantung kepada paradigma orang lain? Seberapa banyak topeng-topeng yang tercipta dan kemudian kita kenakan demi paradigma orang lain? Lalu lihatlah sekeliling. Seberapa dominan perilaku tersebut berlaku dan menjadi budaya baru?

Padahal seharusnya kita berdiri diatas paradigma kita sendiri. Padahal seharusnya paradigma menjadi anugrah atas lahirnya ide-ide baru yang menyempurnakan kehidupan. Namun kini, paradigma telah dikultuskan menjadi sang pencipta. Menciptakan makhluk-makhluk artifisial yang berdiri diatas paradigma sesamanya. Mungkin kita termasuk salah satunya. Ya. Mungkin kita adalah artifisial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s