Cermin, Benda Termahal atau Termurah?

Pada suatu malam, saya iseng bertamu kerumah teman saya cuma untuk sekedar kumpul-kumpul. Saya tidak menyangka disana sedang terjadi perdebatan seru mencari pembenaran nya masing-masing. Satu sama lain saling menyerqang, satu sama lain saling mencari pembenaran nya masing-masing. Awalnya saya bertamu untuk menghilangkan rasa bosan dan menghibur diri, justru yang saya dapati adalah suasana yang panas yang justru membuat saya merasa tidak nyaman.

Saya coba selingi perdebatan mereka dengan joke-joke dan celetukan-celetukan supaya suasana agak sedikit mencair. Tidak sepenuhnya berhasil. Nampaknya mereka satu sama lain sedang asik tenggelam dalam ego nya masing-masing. Akhirnya saya berkata dengan agak keras, “tau gak benda paling mahal di dunia itu apa?” Mereka semua diam. Kemudian saya jawab, “CERMIN. Karena banyak orang yang gak punya cermin, jadi banyak yang nggak ngaca.” Mereka tetap terdiam, dan perdebatan sepenuhnya berhenti. Mereka pun kemudian tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

—-

Memang, disadari atau tidak disadari, kerap kali kita berasumsi dan berparadigma tentang sesuatu yang benar dan yang salah. Dan kerap kali kita selalu mencari pembenaran masing-masing demi terpuaskannya ego kita masing-masing. Sementara benar-salah nya sesuatu sangat relatif. Takaran benar-salah kebanyakan adalah hal-hal yang disepakati bersama secara tidak langsung.

Seringkali kita ingin dianggap benar dan kemudian menyalahkan orang lain. Namun jarang sekali kita bercermin kedalam diri akan kesalahan-kesalahan serta keburukan-keburukan diri kita. Padahal, manusia adalah tempatnya salah. Itu karena kita sadar atau tidak sadar sering meninggikan ego kita masing-masing.

Kesalahan pada manusia merupakan media agar pembelajaran hidup agar manusia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun kerap kali kita memandang kesalahan orang lain sebagai cacat cela sementara kita merasa lebih unggul.

Bila benar-salah adalah relatif, mengapa kita masih saja meninggikan ego demi mencari pembenaran diri? Kenapa tidak kita mencoba berkaca terlebih dahulu, introspeksi, dan mencari kesalahan-kesalahan kita untuk kemudian memperbaikinya? Kalau sudah begini, bukankah lebih baik bukan mencari benar-salah pada orang lain namun mencari tau kedalam diri apakah kita sadar atau tidak sadar diri?

Mungkin harga cermin terlalu mahal sehingga banyak manusia yang tidak sanggup untuk membeli, atau mungkin terlalu murah sehingga sedikit peminatnya. Padahal kalau dipikir-pikir, cermin bisa jadi barang yang sangat menarik karena dari situlah kita dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Melihat mana yang berantakan untuk segera dirapihkan, mempercantik pribadi, sampai ke fungsi untuk mengamati apa yang ada di belakang kita sehingga jadi lebih waspada.

Bila sudah punya cermin, dan kita bisa menggunakannya, kita tidak perlu repot-repot sok ‘membenahi’ hidup orang lain dengan judgement yang kita lontarkan. Memang, sah-sah saja jika ingin membantu orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi tidak dengan judgement yang seolah-olah menunjukkan diri kita lah yang paling benar. Bukan lagi benar-salah, tapi sadar-tidak sadar. Bukan lagi tentang orang lain, namun tentang diri sendiri.

Jadi, ada yang tau tempat beli cermin yang paling bagus untuk ‘berkaca’? Kebetulan cermin saya sudah lama pecah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s