Alien Alienated


“Manusia itu tau aturan.” Kata temanku. Pernyataan yang simple dan mungkin tanpa dipikir dulu. Membuatku berfikir dan menimbang-nimbang, “Apa iya? Terus apa kabar dengan mereka yang gak setuju dengan aturan-aturan yang berlaku dengan alasan aturan-aturan tersebut kebanyakan merupakan kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan ? Aku cuma tertawa saja ketika mendengar pernyataan tersebut.


Aku memang terlahir sedikit berbeda. Baik dari sifat karakter, perilaku, maupun pola pikir. Sehingga dari kecil sampai saat ini, kerap kali lingkungan sekitarku dari mulai keluarga, tetangga, sampai ke relasi profesional menganggapku aneh. Aneh memang merupakan kondisi tidak biasa. Akan menjadi tidak aneh kalau suatu lingkungan sudah terbiasa. Masalahnya, Lingkungan sosial suatu masyarakat mempunyai pola-pola perilaku tertentu yang disebut budaya dan atau norma yang disepakati oleh masyarakat atau kelompok tersebut. Aku tidak bisa begitu saja pola-pola perilaku dan pemikiran yang kupunya dan memaksakannya kepada masyarakat. Aneh sama dengan tidak normal. Sementara siapa sih yang tau parameter normal itu seperti apa?

Tapi memang dasarnya aku tipikal orang yang keras kepala, seringkali budaya atau norma-norma yang berlaku dilingkungan sosial aku langgar karena aku tidak nyaman dengan budaya atau norma-norma tersebut. Misalnya, aku pernah tidak ingin membuat SIM karena menurutku, selama proses pembuatan SIM masih tidak jujur (menggunakan calo, manipulasi nilai dan sogok-menyogok) dan ketidakjujuran itu merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan SIM tersebut, sama saja aku melestarikan ketidakjujuran tersebut. Ekstrim memang. Dan masih banyak contoh lain dari budaya atau norma yang aku tentang. Akibatnya, seringkali aku dikucilkan karena mereka menganggap gaya berpikirku yang aneh. Mungkin saja mereka merasa aku bukan bagian dari mereka (yang sejujurnya akupun juga merasa bukan bagian dari mereka). Aku bagai alien diantara lingkunganku sendiri.


Aku seringkali merasa sendirian. Sekian lama. Akupun akhirnya mencoba beradaptasi dengan menciptakan topeng-topeng yang kerap kukenakan ketika berada dilingkunganku sendiri agar aku dapat lebih diterima diantara mereka. Aku membohongi lingkunganku, dan diriku sendiri. Tetap saja, aku merasakan kesepian. Menjadi berbeda dari sebelumnya tidak mudah. Dan merasa berbeda dari yang lain itu agak menyebalkan. Satu kalimat bijak yang selalu jadi andalan untuk menyenang-nyenangkan hatiku cuma “Setiap orang diciptakan berbeda satu sama lain. Dan karena keragaman itulah setiap orang saling mengenal satu dengan yang lainnya.”

Aku pikir hanya aku yang merasakan seperti itu. Untuk kemudian aku mulai yakin. Pasti ada orang seperti ku diluar sana. dan aku pasti akan menemukannya. Meskipun tercipta berbeda satu dengan yang lainnya, bukankah dalam disiplin ilmu psikologi manusia terbagi dalam beberapa jenis karakter? Harapanku terjawab seiring waktu yang berjalan. Aku mulai menemukan beberapa orang yang mempunyai perilaku-perilaku unik seperti yang aku mililki (kusebut unik karena ngeles dari kata-kata aneh :D). Mereka adalah alien-alien dalam bentuk manusia yang hidup diantara manusia “normal” lain. Senang rasanya.


Kunikmati waktu bersama kelompok manusia seperti diriku ini. Saling mengenal, berbagi, mengisi, dan mewarnai hidup satu sama lain. Aku merasa nyaman. Namun bukan tidak mungkin ketika seseorang telah cukup dekat dalam berelasi, maka ia akan semakin mengetahui seluk beluk masing-masing. Sifat, karakter, pemikiran. Dan memang. Tidak ada yang betul-betul sama dalam segala hal.

Ada beberapa poin dari mereka yang sejenis denganku yang kutemui dalam hidupku membuatku merasa tidak nyaman. Terlebih lagi dari sifatku yang terlalu menutup diri hasil bentukan dari lingkunganku sebelumnya. Apalagi orang-orang seperti ini (termasuk aku) cukup saklek dalam berfikir dan bertindak. Terkadang aku merasakan sangat bersebrangan jauh dari mereka dibanding dengan lingkunganku sebelumnya. Kerap kali tumbukan besar yang sunyi tak terasa terjadi. Akupun perlahan namun pasti kembali merasa teralienisasi. Ya, aku adalah alien yang teralienisasi, karena pikiranku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s