Sempurna

As perfect as we’ve done in this life. At least we know the perfection is imperfection.

Awalnya hidup terasa ringan, ketika kita hanya menjalani hidup secara sederhana, menjalani hidup apa adanya. Bergelut dengan waktu, menikmati emosi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa dan raga, berbudaya, bersosialisasi, berjuang dan bertahan, sampai akhirnya mati. Inilah hidup yang dijalani kebanyakan manusia.

Aku rindu saat-saat itu. Dimana semuanya berjalan secara normal. Menjalani hidup yang aku pilih seperti kebanyakan manusia lain. Semuanya mulai berubah ketika muncul permasalahan-permasalahan absurd yang kompleks. Segalanya menjadi tidak sesederhana dulu. Masalah yang tidak kunjung usai datang silih berganti. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mungkin tidak terpikirkan oleh manusia lain menjerat hari demi hariku.

Memang, setiap pribadi mempunyai masalahnya masing-masing. Dan memang, masalah adalah sarana untuk menempa jiwa manusia agar dapat memahami kehidupan. Namun kehidupan begitu luas.

Satu persatu masalah-masalah aku hadapi dan aku selesaikan. Pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup, kehidupan, dan semesta, aku pahami dan pelajari hingga timbul jawaban. Tentunya dengan keterlibatan emosi-emosi yang timbul dari proses tersebut.

Banyak ku lihat mereka-mereka yang menyerah pada suatu tahapan. Banyak juga yang dapat melewati tahapan tersebut. Sehingga kehidupan mereka menjadi sempurna. Mereka berbahagia. Tak ada lagi rasa sakit, sedih, benci, marah, semuanya begitu sempurna.

Sungguh menyenangkan menonton yang lain bergelut dengan hidup dan dirinya sendiri. Sementara aku terus belajar dari mereka.

Aku sadar, aku juga bagian dari mereka. Berproses dalam hidup sampai aku mati kelak. Kunikmati proses demi proses tersebut. Satu persatu. Dan kini, rasa-rasanya telah kuhadapi semua. Aku merasa, hidupku begitu sempurna.

Namun aku juga sadar. Ada yang hilang. Apalagi yang harus aku hadapi selanjutnya? Rasa-rasanya aku telah sampai pada pencapaian hidupku. Tak ada lagi yang aku cari. Semua begitu hambar. Datar. Tak ada lagi rasa sakit yang dulu biasa menemani malam-malam kelam ku. Tak ada lagi puzzle yang harus kuselesaikan. Aku menghilang.

Seringkali aku mebohongi diri ini. Menggalaukan hati. Mencari-cari pedih dan berharap hidup kembali. Kembali bertarung dalam hidup hingga akhir nafasku nanti. Sementara, rasa tersebut seakan tak akan kembali. Masa tersebut tak akan terulang lagi. Teringat ucapan seorang teman, “Kamu pecandu. Pecandu rasa sakit.” Memang, bukankah manusia butuh emosi semacam itu?

Hidupku memang telah sempurna. Namun siapa sangka kesempurnaan itu sendiri adalah ketidaksempurnaan. Hidupku tak pernah sempurna dalam kesempurnaan yang mereka cari.

Aku ingin hidup kembali. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s