Rindu di Negeri Atas Awan (catatan sebuah perjalanan pendakian)

RINDU TAK TERBENDUNG

Jakarta, 24 November 2011

Aku mendengar bisikMu
Merajuk hati pulang kembali
Melepas rindu, diantara tanahMu
Yang kucumbui

Rinduku semakin memuncak seakan tak terbendung lagi. Hasrat untuk memulai hari di awal tahun Hijriah, di tempat aku menikmati sunyi, tak dapat kutahankan lagi. Padahal angka-angka dikalender kamarku sudah penuh dengan label-label deadline. Tapi aku ingin pulang. Aku harus pulang. Ingin rasanya kembali bermanja-manja, bermesraan, dan menumpahkan air mata dan do’a paling istimewa di hadapanNya.

Tak perduli dengan padatnya jadwal dan rencana-rencana, deadline pekerjaan yang menumpuk, ku mantapkan hati untuk pergi. Kebetulan teman sedang mengadakan pendakian masal tepat di saat aku harus kembali. Berangkat lewat Gunung Putri, turun lewat Cibodas. Aku pun segera menyelesaikan registrasi dan menyiapkan perlengkapan dan perbekalan. Aku akan pulang. 


KABUT RINDU GUNUNG PUTRI

Gunung Putri, Cianjur, 26 November 2011

Kabut pagi sebagai selimut lembah
Laksana kabut yang selimuti hatiku
Saat aku mencariMu dalam rindu



Aku tidak tidur semalaman. Semenjak berangkat dari jakarta tadi malam, hatiku terlalu riang, sehingga kantuk pun enggan menggantung di mata. Sambil menikmati kabut yang selimuti lembah, kunikmati kopi sementara menunggu teman-teman ku bangun.

Terlintas satu persatu kenangan demi kenangan tentang tanah ini, bersama kisah-kisah yang pernah aku lewati disini. Termasuk kenangan-kenangan pahit akan tantangan yang mungkin nanti akan ku lewati lagi. Dahsyatnya jalur, ganasnya cuaca, dan berbagai macam bahaya yang mengintai tiap pendaki. Tapi itu semua tidak menyurutkan niatku untuk mencumbu tanah ini, melepas rindu, dalam pencarianku akan Dia Sang Kekasih hatiku. Aku berucap lirih, “Kuserahkan semua kepadaMu.” Karena cuma Dia yang tau, untuk apa aku disini. 

Tak kupelajari dimana
Pelangi itu
Di antara kabut, kucari
jemari itu
Dan aku tak bisa melangkah
di antara musafirnya
Sabar ku mendaki pusaran
Puncak hatimu
Kesan yang terjadi di ladang
Lara batinku
Dan aku tak bisa melangkah
di antara musafirnya
Dan aku rindu melangkah di duniamu
Di antara ku, janjimu terlunta 

SORE – Mata Berdebu

Setelah registrasi ulang dan briefing bersama team, aku pun memulai pendakian. Pagi yang cerah, seakan langit menyapa ramah dan ikut berbahagia mengiring keberangkatan kami. Perjalanan menempuh waktu 8 jam, dengan jalur pendakian yang cukup ekstrim. Aku sempat terpisah dari team dan drop. Beruntung aku diselamatkan penjual nasi uduk yang baru turun menjajakan dagangannya ke para pendaki.


TENGGELAM DALAM RINDU DI NEGERI DI AWAN

Sekitar pukul 14.30, jalur pendakian yang mulai berbatu dan berpasir, tipisnya oksigen, menandakan semakin dekatnya aku ke tempat tujuan. Dan akhirnya, hamparan padang hijau yang dipenuhi bunga edelweis, membentang indah dihadapan mata. Alun-alun Surya Kencana. Inilah Negeri di Awan. Yang dengan suksesnya memecah rindu yang kupendam. Ini baru awal. “Apalagi yang akan Kau tunjukkan padaku untuk membuatku semakin terdiam dan tenggelam dalam rindu?”

Rindu ini seketika meluap
Mendesak dari balik hela nafas
sampai ke kelopak mata
Kemudian mengalir turun dengan derasnya
Aku rubuh, diantara kedua lututku
Bersujud memanggilMu dengan lirih
Sementara hidungku menghirup tanahmu”


Tak terperi rasa bahagia ketika sampai disana. Aku bersujud, takluk akan indah cerminan wujudNya. Rasa bahagia yang tak terucapkan dengan kata-kata, berhasil membuat basah mata ini. Hanya NamaNya yang terucap. Kata-kata lain larut terserap dalam AsmaNya.


MENCARIMU DI TIAP SUDUT CAKRAWALA

Mata kuyuku menatap liar
mencari-cari Mu
disetiap sudut cakrawala
Aku kehilangan Mu
Aku semakin merindu



Tak berhenti mataku mencari-cari Dia agar terobati rasa rinduku. Namun apa daya, Dia tak dimana-mana. Sementara Dia ada dimana-mana. Aku pasrah dalam rindu. Melangkah gontai memanggil-manggil NamaNya. Pasrah aku dalam rindu. Ku relakan aku tenggelam dalam rindu, di Negeri atas awan. Negeri sejuta rindu.

Never saw you never heard youBut i knew that you where thereEverywhereI could feel you all around me
Great Lake Swimmer – Song for The Angel

THE BEST SCENERY WITHIN YOUR BEAUTY



Aku bergegas mencari teamku. Setelah sampai tenda, segera aku berberes. Menyiapkan logistik, memasak, dan mengambil air. Selepas magrib, kami bercengkrama dan kemudian tidur sejenak. Lalu sekitar jam 8 aku terbangun karena suara teman-teman ku yang sedang bercengkrama. Ketika keluar tenda, aku kembali dibuat terdiam dengan suguhan pemandangan langit bertabur bintang. Indah.

Seperti hamparan berlian dilangit, bintang-bintang itu memenuhi langit tanpa cacat cela. Meteor-meteor ikut menghias taburan berlian angkasa. Sungai langit yang membelah angkasa membuat semakin takjub, menambah romantisnya suasana. Tuhan memang Maha Romantis. Kami bercengkrama dibawah indahnya langit sampai tengah malam untuk kemudian beristirahat.

Wahai keindahan, kau telah bungkam aku dengan pesonaLalu bagaimana dengan pemilik mu, Sang Maha Indah?Ah, mungkin aku akan mati dalam pesona Nya



Menjelang subuh, aku terbangun. Kunikmati lagi langit. Tak terasa air mata menetes kembali. Dia bangunkan aku hanya untuk memberikan aku waktu bersamaNya di tempat paling Indah dalam hidupku. Ku curahkan rindu, bermanja-manja, bercerita, bercengkrama. Sementara mata ini terus menyapu lanskap dan cakrawala tak bertepi. Tak kutemukan Dia. Hanya bayanganNya. Akupun tertidur dalam taklukku, dalam derai air mata. Aku tertidur dalam sujudku.


AKHIRNYA KU MENEMUKAN MU

Taman Nasional Gede Pangrango, 27 November 2011

Pagi yang cerah di padang edelweis. Hari ini aku akan turun. Kami pun bersiap-siap. Setelah makan dan packing, kami melakukan perjalanan pulang, setelah sebelumnya mencapai puncak Gede. Kami akan melewati jalur Cibodas.

Sesampainya di puncak Gede, kembali aku dihadapkan pemandangan yang Indah. Kawah Gede kali ini terlihat indah tanpa kabut. Aku terdiam. Takjub. Mata ku kembali menyapu sekeliling sambil berucap lirih. “Dimana Engkau?” Aku kembali terdiam. Akhirnya, aku menyadari. Kau jawab aku. Selama ini Engkau ada dalam hatiku. Selalu.



Air mata kembali menetes. Bahagia. Bahagia rasanya telah kembali. Kembali ke tanah ini. Kembali ke pelukan Nya. Bersama Nya. Semakin aku merindu, semakin aku mencinta Nya. 

Akhirnya aku turun dengan perasaan bahagia. Perjalanan turun memakan waktu 7 jam. Kaki ini melepuh. Badan pun lelah tak terkira. Namun bahagia di hati menjadi obatnya. Dalam hati aku terus tersenyum. “Aku menemukanMu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s