Destiny oh Destiny

Pernah ada seorang bijak berkata, “Hidup adalah pilihan. Segala sesuatu yang terjadi pada seseorang merupakan pilihan nya sendiri.” Benarkah?

Memang banyak orang-orang menganggap takdir itu adalah pilihan seseorang. Seseorang menjadi sakit, marah, bahagia, semua nya tidak terlepas dari pilihan si manusianya sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang memilih untuk tidak menjaga kesehatannya di masa lampau ternyata saat ini sedang terbaring sakit. Bukankah itu merupakan pilihannya sendiri? Atau dalam hal lain, apakah mungkin Tuhan menaikkan derajat ilmu dan harta seorang manusia tanpa usaha dari manusia tersebut? Bukankah itu berarti takdir merupakan pilihan dari manusia tersebut?

Menurut Al-Qur’an, Surat Yusuf: 68, Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dan memang, takdir merupakan segala sesuatu yang SUDAH terjadi.

Namun, apabila takdir adalah pilihan, kenapa terkadang ada orang yang sudah benar-benar berusaha namun apa yang menjadi pilihannya tidak terwujud?

Pernah lihat film Final Destination kan? Dimana seseorang yang telah diberitahukan apa yang akan menimpanya (kematian) dan orang tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Berusaha merubah dan melawan takdir tersebut. Toh, pada akhirnya, mati juga.

Belakangan ini saya sedang menganalisa dan mempelajari Butterfly Effect. Yaitu suatu kiasan yang merangkum konsep ketergantungan yang sensitif terhadap kondisi awal dalam teori chaos. Sedangkan teori chaos yaitu teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur, random, dan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur. Secara statistik, chaos adalah kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik (sederhana) dan bila sistem yang deterministik ini ditumpuk-tumpukkan akan menjadi sistem yang rumit (stokastik).

Apa hubungannya dengan takdir? Dikatakan pada teori Butterfly Effect, bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menimbulkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Ungkapan ini mengacu pada gagasan bahwa sayap seekor kupu-kupu dapat membuat perubahan kecil di atmosfer yang pada akhirnya dapat mengubah jalan tornado atau menunda, mempercepat atau bahkan mencegah terjadinya tornado di lokasi tertentu.

Mengepakkan sayap merupakan perubahan kecil dalam kondisi awal sistem, yang menyebabkan rantai peristiwa yang menyebabkan perubahan besar-besaran peristiwa. Kalau kupu-kupu tidak mengepakkan sayap, lintasan sistem mungkin telah jauh berbeda. Sementara kupu-kupu tidak “menyebabkan” tornado dalam arti menyediakan energi untuk tornado, itu bukan “sebab” dalam arti bahwa kepakan sayapnya adalah bagian penting dari kondisi awal menghasilkan tornado, atau tidak menyebabkan tornado, tergantung dari kondisi awal dan faktor-faktor chaos yang ada.

Contoh lain yang simple adalah, ketika seorang karyawan teladan yang berusaha keras untuk naik jabatan sementara ada faktor chaos, kemenakan dari sang pemilik saham yang tidak begitu pintar dipromosikan menduduki jabatan yang diincar oleh si karyawan teladan. Ada faktor probabilitas dan relativitas disini. Bisa saja si Karyawan teladan ini mendapatkan jabatan tersebut, atau mungkin saja justru si kemenakan sang pemilik saham yang menduduki jabatan tersebut dikarenakan faktor yang tak teratur dan random yaitu faktor chaos (Kesalahan kecil si karyawan teladan, faktor sogok-menyogok, dll)

Contoh lain, 10 x 5 = 50. Itu sudah pasti. 5,2 jika dibulatkan akan menjadi 5. Namun, apabila 10 x 5,2 apakah sama dengan 10 x 5? Tentu tidak. 10 adalah sang objek. 5 adalah choice. 0,2 adalah faktor chaos. dan hasil akhirnya adalah destiny.

Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa takdir adalah pilihan?

Belakangan saya mulai mengkaji lagi tentang fenomena takdir ini. Yang saya dapati adalah, memang, kita harus memahami bahwa terjadi atau tidak terjadinya sesuatu, ada kekuatan besar yang sangat berpengaruh disini. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Bukti sederhananya adalah, bahwa manusia cuma bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti tanpa menyadari apa saja faktor chaos yang dapat mempengaruhi. Hanya sedikit orang yang diberi penyingkapan akan apa yang akan terjadi nanti, baik berupa penyingkapan (kasyf) langsung (visual), maupun firasat (premonition).

Kemudian saya mulai memahami, ada dua dimensi atau bagian dari takdir itu sendiri. Yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi objektivitas. Dimensi ketuhanan yaitu dimana memang ada kuasa yang benar-benar mengatur segala sesuatunya, dan seakan sang objek penderita tidak dapat melakukan campur tangan. Sedangkan Dimensi objektivitas yaitu dimana memang sepertinya sang objek diberikan kesempatan untuk mencapai apa yang mereka pilih.

Lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap takdir? Saya cuma bisa mengatakan bahwa memang manusia itu adalah makhluk yang diberi kelemahan akan ketidak tahuan akan takdirnya kecuali bila takdir tersebut sudah terjadi atau seseorang itu diberi bonus penyingkapan (Kasyf). Toh, yang diberi penyingkapan pun tidak akan bisa menolak dan melawan apa yang akan ditentukan nantinya. Karena ketidaktahuan akan faktor chaos yang akan mempengaruhi. Yang perlu dilakukan manusia, apalagi kalau bukan pasrah dan menerima namun tetap berusaha meraih apa yang menjadi cita-cita nya. Dan manusia seharusnya memang menyadari keberadaan kekuatan yang menentukan ketetapan-ketetapan.

Itu berarti, berhasil atau tidaknya seseorang dalam pencapaian takdirnya, dia harus menyadari bahwa memang ada satu kekuatan yang mengarahkan dia kearah tersebut. Tidak perlu melawan, tidak perlu menghindar. Karena bagaimanapun juga kita tidak bisa terlepas dari apa yang telah ditetapkan.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Buat Apa Percaya Tuhan? | kolom sunyi kontemplasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s