Di Flyover Jatinegara Pada Suatu Pagi

Satu batang rokok, hela nafas berat ku bercampur dengan asap dan embun pagi. Aku masih terpaku menatap cahaya lampu yang berbaur dengan semburat jingga matahari pagi yang belum juga muncul. Udara terasa dingin, meski tak lebih dingin dari senyumku. Satu batang rokok pun habis.

Kini giliran batang kedua kunyalakan. Kuhirup dalam-dalam asap kimia memenuhi paru-paru ku. Supaya bisa mengusir sesak yang menghalangi ku untuk bernafas. Pikiranku entah ada dimana. Pandanganku seakan menembus semua objek yang tertangkap mataku. Sejenak aku sadar, aku sedang tidak berada disini. Aku tidak berada dimana-mana. Batang kedua pun habis. Bersama hela nafas yang kuhembuskan keras-keras.

Aku tertunduk lesu menahan tangis sebelum batang ketiga ku nyalakan. Lalu kutatap langit lekat-lekat sambil menghembuskan asap, berharap semua beban ku terlepas bersama asap yang kukepulkan. Airmata mulai mengalir mengiringi kata-kata, “AKU MENCINTAI MU”. Aku terdiam, tak berpikir. Belum ada setengah batang aku habiskan, kubuang rokok itu jauh-jauh, lalu aku memukul wajah ku berkali-kali sebelum akhirnya aku jatuhkan pukulan ku pada trotoar dengan keras.

Aku kembali terdiam. Mulutku mendesiskan kata, “Sakit!!!”. Dan aku tersadar, nasi uduk langganan sudah menunggu. Aku lapar!!!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s