Label Itu Bernama….

Berbagai macam label pernah diberikan kepada saya, merujuk kepada sifat-sifat dan sikap-sikap keseharian saya. Dari mulai yang negatif, sampai yang positif. Dari mulai label aneh, label hiperaktif, label pengkhayal, dan lain-lain. Saya sendiri, lebih suka menjadi diri saya sendiri. Pribadi seutuhnya. Tidak perduli apa yang mereka katakan.

Terkadang saya merasa terganggu oleh label-label yang mereka berikan terhadap saya. Membuat saya merasa ter-alienisasi. Terasingkan oleh lingkungan saya pada umumnya. Namun, siapa sangka diluar sana banyak yang seperti saya.

Sekuat mungkin saya berupaya untuk menjadi seperti mereka yang normal. Sekuat mungkin saya berusaha menyingkirkan label-label yang mereka berikan. Tapi tak lain, saat itu saya sebenarnya sedang membunuh karakter saya sendiri. Berusaha menjadi yang lain, mengikuti ideal nya lingkungan yang mereka ciptakan.

Bertahun-tahun saya berkelahi dengan diri saya sendiri, mencari tau siapa saya sebenarnya. Sampai pada akhirnya, mereka mulai mengklaim kembali, bahwa orang-orang seperti saya bernama Indigo.

Saya sama sekali tidak merasa senang atas label terakhir yang mereka berikan kepada saya. Kenapa orang-orang seperti saya harus dilabelkan? Bukankah kita semua sama? Hanya seongok daging yang berjalan, beraktifitas, dan menamakan diri sebagai manusia? Lalu apa bedanya? Sifat dan karakter? Lalu kenapa harus berlabel? Memang nya label tersebut akan dibawa mati?

Banyak dari mereka menganggap saya aneh dan berbeda. Saya memang aneh. Tapi sejatinya, saya sama seperti manusia lain. Banyak dari mereka menganggap saya sakit. Ya, saya memang sakit. Namun saya merasa lebih sakit dengan label yang telah mereka berikan kepada saya.

Akhirnya, saya memaksa diri untuk menerima label ini. Sekian lama. Menebal-nebalkan kuping dan perasaan ketika ada yang menyebut saya dukun. Menyaman-nyamankan diri saya ketika satu-persatu mulai mengasingkan diri saya. Sekian lama.

Namun, sampai kapankah semua akan berakhir? Kapankah kami dapat di terima? Kapankah kami dapat menjadi sama dengan kalian? Menikmati semesta dan segala anugrah hidup yang DIA berikan. Mungkinkah?


P.S.:

Terakhir kali, cinta saya ditolak gara-gara si wanita mengetahui saya mempunyai label indigo kemudian saya galau dan menciptakan tulisan-tulisan sampah ini. Harap maklum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s